Jangan lupa tutup pintunya, Sayang.
Tapi ingat, jangan kaukunci pintu itu.
Aku akan pulang, entah dengan kejutan apa.
Kau bisa saja menemukanku membawa kantung belanjaan,
Atau
makanan, atau buku cuci gudang yang biasa dijajakan di kolong terminal.
Namun tak jarang juga kautemukan tanganku kosong,
Hanya peluh dan kemeja basah berkeringat yang kubawa pulang.
//
Jangan lupa tutup jendelanya, Sayang.
Sudah memasuki bulan Mei.
Musim kemarau akhirnya datang, (walau hujan kadang masih
suka mampir ke halaman kita)
Begitu juga puluhan nyamuk dari halaman.
Pastikan kaca-kaca nako itu tertutup rapat, atau
Nyamuk-nyamuk akan masuk dan menggerayangi tubuhmu sebelum
aku.
Tunggulah. Aku akan pulang.
//
Jangan lupa sediakan kopi hitam tanpa gula di meja, Sayang.
Tak perlu hangat. Dinginpun tak masalah.
Kopi-kopi buatanmu selalu hangat saat menyentuh lambungku
Yang sering kumat gastritisnya.
Dan saat aku pulang nanti, temani aku di meja makan, Sayang.
Maka akan kusesap kopi yang sudah dingin itu sambil
menghitung
Jumlah helai rambut yang menyembul keluar dari ikatan
rambutmu
Sayang, andai kautahu, aku selalu suka
Memandangimu saat tidur.
Apa kau tahu untuk apa kutaruh tumpukan kertas kosong
Dan alat tulis di meja kecil di samping tempat tidur kita?
Bukan, bukan untuk menulis alamat atau nomor telepon.
Tumpukan kertas itu kugunakan untuk mengabdikanmu;
Untuk menggambarmu.
Sesekali juga kugunakan untuk menulis sajak-sajak untukmu.
Aku menggambar dan menulismu dalam diam.
Dalam keheningan yang amat sangat.
Seakan sekelilingku adalah gelembung raksasa kedap udara
Selesai mengabdikanmu di atas kertas,
Aku menaruh dan mengumpulkannya menjadi satu
Di dalam kotak sepatu yang kusimpan di dalam lemari.
Aku tidak pernah memberikannya langsung padamu.
Entah malu atau entah aku ingin
Kau mengetahuinya sendiri sewaktu-waktu;
Entah kapan
Aku selalu suka pulang larut, Sayang.
Jalanan kota menjadi sangat lengang dan indah.
Angkutan kota tidak sebanyak saat siang hari,
Kendaraan bermotor tidak saling menyalip dan mengklaksoni
Motor tua kita dengan membabi buta
Hanya karena aku berhenti sebelum zebra cross
Aku selalu melewati barisan gedung pencakar langit itu,
Sayang.
Kau membenci gedung-gedung itu, yang
Berlapis kaca, yang menyebabkan pemanasan global saat siang,
Namun memancarkan indahnya lampu saat malam.
Sebuah kontradiksi, ujarmu suatu malam
Sayang, aku tidak pernah berani membangunkanmu
Dari tidurmu yang nyenyak itu.
Maka setiap pulang larut, kutuntun motor tua kita
Dari persimpangan jalan sana.
Aku takut suara mesinnya yang berisik membangunkanmu.
//
Jangan lupa, Sayang
Aku akan pulang.
Menyesap kopi yang sudah dingin sebentar,
Mengabdikanmu di atas kertas, lalu
Pergi tidur dalam damai.
Jangan lupa, Sayang
Akan ada yang selalu ingin pulang.
Dan jangan lupa juga,
Akan ada yang selalu sayang.
//
No comments:
Post a Comment